«

»

Jul 17

Print this Post

Meningkatkan Eksistensi Diri

Ada seorang teman mahasiswa mengirimkan pesan kepada saya “mas saya punya pandangan ”bahwa dalam organisasi bukan orang didalamnya yg dibesarkan organisasi tapi orang-orang didalamnya yang membesarkan organisasi, tapi juga gak munafik kalau ikut organisasi salah satu cara untuk mengeksistensikan diri kita terhadap publik..Tapi saya bisa kuliah sambil kerja, saya punya hasrat tinggi untuk ikut adil dalam organisasi, tapi saya kerja dan saya punya tanggung jawab terhadap pekerjaan dan kuliah saya, apakah saya harus pendam hasrat saya untuk ikut suatu organisasi, kalau mas suruh saya bagi waktu sudah sulit, malam kerja liburan ya sering dihabiskan ditempat kerja ??
#bimbang”.

Itulah sepenggal pesan yang ditinggalkan teman saya dalam inbok facebook.  Pesan itu saya baca dengan sungguh sampai selesai. Setelah itu saya mencoba memahami esensi dari pesan tersebut. Ada beberapa bentuk persoalan yang dirasakan oleh teman saya. Pertama: Dia percaya organisasi adalah salah satu sarana mengeksistensikan diri. Kedua: Dia Punya hasrat ingin aktif dalam organisasi,. Ketiga: Tapi Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, karena dari hasil pekerjaan itu dia bisa kuliah, sehingga ini menjadi kendala keinginan berorganisasi. Keempat: Dia benar-benar sudah tidak bisa membagi waktu lagi. Kelima: Dia mengalami kebimbangan, tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Setelah mengkaji ulang intinya adalah pada persoalan  eksistensi diri di hadapan publik. Inilah yang akan coba saya bahas, dengan harapan para teman-teman mahasiswa bisa mengambil tindakan yang tepat bagaimana harus bersikap jika mengalami masalah seperti teman saya tersebut.  Perlu teman-teman ketahui organisasi memang sarana yang tepat untuk mengeksistensikan diri, tapi tidak semuanya demikian, banyak juga kok mahasiswa yang aktif organisasi tapi gak produktif.

Saya akan memulai dari pengalaman pribadi. Saya sangat suka berorganisasi. Berkecimpung dalam organisasi saya mulai dari kelas 1 SMP dengan menjadi sekretaris OSIS, kemudian berlanjut di kelas dua menjadi ketua OSIS. Bukan hanya di OSIS saja, saya juga aktif  dalam kegiatan pramuka. Kecintaan akan organisasi pun saya bawa sampai SMA, meskipun saya bukan aktivis OSIS atau pun pramuka. Kemudian saya juga berkecimpung di organisasi pemuda di kampung. Setelah lulus SMA kegiatan organisasi berkurang, hal  itu dikarenakan saya harus merantau untuk bekerja. Setelah empat tahun bekerja saya memutuskan untuk kuliah. Awalnya saya ingin sekali setetah kuliah nanti saya aktif dalam organisasi, tapi keinginan saya tidak terwujud.

Saya mengalami nasib yang sama dengan teman di atas. Saya kuliah sambil bekerja, jadi sama sekali saya tidak ada waktu untuk ikut organisasi di kampus. Tapi itu adalah keputusan saya, karena buat saya kuliah dan bekerja lebih penting.  Namun hati kecil saya, tidak bisa mengelak bahwa saya sangat mencintai organisasi. Jadi meskipun saya tidak aktif di kampus, saya tetap menyempatkan diri berorganisasi lewat kegiatan remaja di kampung, yaitu dengan active dalam kegiatan remaja mushola. Kegiatan yang saya lakukan adalah dengan mengisi ceramah di perkumpulan remaja mushola putra maupun putri. Alhamdulillah kegiatan yang saya lakukan cukup mendapat perhatian dari pengurus dan anggota perkumpulan, bahkan para orang tua pun ikut mendukung kegiatan yang saya lakukan.

Kegiatan itu hanya bisa berjalan satu tahunan, hal itu disebabkan karena saya harus lebih fokus pada kegiatan akademis kampus, seperti PPL, KKN dan Sebaiknya.

Dari apa yang saya lakukan tersebut semuanya membuahkan hasil. Setelah dinyatakan lulus kuliah, saya mendapat rekomendasi mengajar di kampus tempat saya kuliah sebelumnya. Menjadi pengajar di kampus tentu bukanlah tugas yang ringan, selain karena tuntutan keilmuan, kita juga dituntut terus mengembangkan diri secara maksimal  di berbagi bidang. Saya selalu berpikir, tidak mungkin saya hanya begini-begini saja. Selain merencanakan untuk melanjutkan studi dan memperdalam ilmu di bidang yang saya geluti, saya pun gencar memperdalam ilmu di luar bidang yang saya geluti.  Banyak hal yang saya lakukan mulai dari memperdalam ilmu (agama, komputer, bisnis, organsasi, kepemimpinan, motivasi), berkumpul dengan berbagai komunitas online (facebook maupun blogger), menulis artikel dan semua hal yang bisa mendukung pengembangan diri saya secara optimal. Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan memperoleh keberhasilan. Inilah salah satu konsep yang saya yakini. Alhasil Tuhan pun menjawab doa saya, satu persatu apa yang saya lakukan membuahkan hasil, karena itu juga eksistensi diri di hadapan publik makin lama makin terbangun.

Dari apa yang saya paparkan tersebut intinya adalah hidup harus punya skala prioritas, mana yang lebih penting itulah yang akan kita lakukan. Satu lagi untuk meningkatkan eksistensi diri di kampus atau di hadapan orang lain, tidak hanya dengan berorganisasi, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu seperti: Menulis, Menjadi blogger, Bergabung dalam forum diskusi, Bergabung dengan komunitas online, Berbagi manfaat dengan orang lain (ide, nasehat, saran). Dengan begitu eksistensi diri kita dengan sendirinya akan semakin terangkat. Tapi perlu diingat juga eksistensi hanyalah dampak bukanlah tujuan dari perjalanan hidup yang kita lakukan.

Semoga bermanfaat.

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About the author

Rona Binham

Adalah seorang pendidik, praktisi presentasi, penulis dan blogger pendiri cafe motivasi. Ia mengajar, melatih, menulis dan terus berusaha memberikan motivasi dan inspirasi kepada semua orang. Dengan sebuah motto "Orang hebat adalah orang yang hidupnya penuh inspirasi dan menginspirasi

Permanent link to this article: http://cafemotivasi.com/meningkatkan-eksistensi-diri/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>